Data-data dan Fakta-fakta Permasalahan Banjir di Indonesia

Distribusi Data-data Banjir di Indonesia

Pada kuartal pertama tahun 2012 ini telah terjadi sekitar 91 kasus Banjir di Indonesia, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sementara, jika dihitung dari pertengahan tahun 2011, telah terjadi sekitar 129 kasus banjir di Indonesia. Sebagian kasus juga diikuti oleh peristiwa longsor.

Dari grafik diatas juga bias dilihat, sejak tahun 1815-2012 sudah terjadi lebih dari 4000 kasus banjir di Indonesia . Data diatas merupakan data yang dicatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), belum termasuk kasus yang tidak tercatat oleh BNPB di masa lalu disebabkan kurangnya jaringan informasi di masa lalu.

Kemudian, dari data lebih lanjut yang kami dapat distribusi kasus Banjir dan Longsor di Indonesia dari tahun 1815-2012 adalah sebagai berikut

Dapat dilihat, kasus banjir paling banyak terjadi di pulau jawa. Dengan Jawa Tengah sebagai daerah dengan jumlah kasus paling banyak. Sementara jumlah kasus banjir dalam decade 2002-2012 adalah sebagai berikut

Data ini menunjukkan lebih dari 80% kasus banjir di Indonesia dari tahun 1815-2012 terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Berikut peta persebaran jumlah kasus dari tahun 2002-2012

Sementara data jumlah korban(tewas maupun luka-luka) dalam satu decade terkahir adalah sebagai berikut

Dapat dilihat pada grafik diatas, jumlah terparah dialami oleh provinsi Sulawesi Selatan.

Contoh Kasus Banjir di beberapa daerah di Indonesia

Jumlah kasus sangat terkonsentrasi di daerah Jawa. Berikut beberapa kejadian banjir yang terjadi di Jawa dalam sepekan ini

1.  Banjir Jakarta. Sebagian besar telah surut. TRC BNPB masih melakukan pemantauan. Dampak susulan dilaporkan adanya 611 warga Jakarta Selatan yang tinggal di wilayah banjir terserang penyakit seperti batuk, diare dan gatal-gatal. Terparah di Pesanggrahan (248 orang), di Kecamatan Pasar Minggu (210 orang). 

2.  Banjir di dua Kecamatan di Kab Sukabumi, Jabar, yaitu di Desa Kebon Manggu, Kecamatan Gunung Guruh dan di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar pada Jumat (6/4/2012). Tinggi banjir mencapai 1 meter dan puluhan rumah. Tidak ada korban jiwa. Banjir disebabkan drainase yang buruk. 

3.  Debit air sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jatim, dalam status siaga satu banjir sejak, Jumat (6/4/2012) dini hari. Peningkatan debit akibat derasnya kiriman dari hulu sungai. Termasuk, adanya banjir di wilayah Kabupaten Ngawi, Jatim, akibat meluapnya Bengawan Madiun dan banjir di Kabupaten Klaten, Jateng dengan meluapnya Kali Dengkeng. Warga di sepanjang Bengawan Solo diimbau untuk waspada.

4.  Banjir merendam rumah milik 29 keluarga di dua dusun di Desa Jatirejo Kecamatan Giritontro, Wonogiri Jateng pada Jumat (6/4/2012). Di Wonogiri juga dilaporkan di  Kecamatan Manyaran terjadi puting beliung menyebabkan 4 rumah roboh, sedangkan di Kecamatan Kismantoro, tiga rumah warga rusak karena bencana tanah longsor. Tidak ada korban jiwa.
 
5.  Sejumlah desa di kawasan Bandung Selatan, Bandung, Jawa Barat, tergenang banjir pada Jumat (6/4/2012) Banjir tersebut juga menyebabkan sejumlah jalan di Baleendah dan Banjaran terputus karena terendam banjir setinggi setengah meter.

Fakta-fakta Penyebab banjir Indonesia

Secara umum penyebab banjir di Indonesia disebabkan meluapnya air sungai yang kemudian membanjiri daerah di pesisir sungai, serta hujan deras yang diikuti longsor yang diakibatkan hutan yang ditebangi sehingga tidak dapat menahan laju air yang menuruni lereng gunung/bukit. Sebagai salah satu contoh kita akan mengambil daerah DKI Jakarta. Berikut beberapa fakta mengenai penyebab banjir di Jakarta:

  • Permasalahan luas tanah di Jakarta tidak bertambah atau malah makin menyempit karena abrasi, sementara penduduk terus bertambah,

  • Tanah kosong atau jalur hijau yang diharapkan menjadi lahan serapan air semakin berkurang lantaran pemukiman dan fasilitas bisnis yang terus bertambah dan melebar secara horizontal.

  • Bantaran sungai yang mestinya menampung air pada saat pasang, umumnya tertutup oleh hunian, baik resmi maupun liar dan sampah-sampah. Lebar sungai-sungai di Jakarta semakin menyempit, dari umumnya 75 meter menjadi 35 meter.

Sumber data : http:/www.bnpb.go.id

dengan Grafik merupakan hasil olahan sendiri

Categories: Pendahuluan | Tinggalkan komentar

Biopori

Apa itu Biopori?

Biopori adalah lubang-lubang di tanah yang terbentuk karena aktifitas organisme di dalamnya (Cacing, rayap, akar tanaman ,dll). Dengan adanya biopori maka kemampuan tanah untuk menyerap air akan lebih tinggi. Biopori dapat perbanyak dengan cara membuat lubang resapan biopori di tanah dan mengisinya dengan zat” organik (sebangai makanan organisme dalam tanah). Dengan bertambahnya makanan, organisme dalam tanah akan lebih aktif menciptakan biopori

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dan diisikan dengan sampah organik untuk memicu pembentukan biopori.

 

Keuntungan Biopori?

Keuntungan dari lubang resapan biopori

–          Meningkatkan daya resapan air dan mengurangi resiko banjir

–          Mengubah sampah organik menjadi kompos

–          Mengefisienkan pemanfaatan fauna tanah dan akar tanaman

–          Mengurangi emisi gas CO2

 

Cara Pembuatan Biopori?

Cara pembuatan :

1         buat lubang silindris vertical di dalam tanah dengan diameter 10cm. kedalamannya kirang lebih 100cm atau tidak melebihi kedalaman air tanah jika air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang 50 – 100 c

2         mulut lubang dapat dipertebal dengan semen dengan ketebalan 2-3 cm dan lebar 2 cm

3         isi lubang dengan sampah organik (sampah dapur, hasil pangkasan rumput, dll). Jika sudah berkurang isi lagi. Lubang ini harus tetap terisi penuh dan tidak boleh kemasukan pasir atau tanah. (sampah yang berpotensi menimbulkan bau dapat direndam dengan sampah kering yang menyumbat lubang)

4         Kompos yang terbentuk di dalam lubang dapat diambil setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang

 

Dimana Sebaiknya Lokasi Biopori?

Lokasi biopori sebaiknya:

–          Bebas dari lalu-lalang

–          Sering dilalui air

–          Dekat dengan tanaman

Lokasi –lokasi yang sering digunakan sebagai tempat pembuatan lubang resapan biopori adalah di  saluran air dan di sekitar tanaman

 

Cara menghitung jumlah lubang yang perlu dibuat?

Jumlah lubang yang disarankan dapat dihitung dengan rumus :

Jumlah LRB = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap () / laju peresapan air per lubang (L/jam)

Contoh : intensitas hijan suatu daerah 50 mm/jam , laju peresapan air perlubang 180 L/jam pada 100 bidang kedap. Maka jumlah LRB yang disarankan adalah 28 lubang( pembulatan).

 

Hasil Suntingan dari Sumber http://www.biopori.com

Categories: Solusi | Tinggalkan komentar

Saran Kami

Segala hal penanganan banjir yang sudah dibicarakan sebelumnya tidak akan mungkin dapat terlaksana dengan baik jika pemerintah tidak mendukung dalam mewujudkan solusi-solusi tersebut. Pemerintah dapat mendukung melalui banyak hal. Salah satu dukungan yaitu dengan memberikan kemudahan dalam perizinan membangun drainase. Pemerintah juga dapat mendukung denganmembantu membebaskan lahan yang akan dipakai dalam prosespembangunan drainase dan aliran air sehingga tidak ada kendala berarti pada proses pembangunan drainase dan aliran air.

Pemerintah dapat membantu pengadaan daerah drainase dan aliran air dengan mempertahankan dan merawat situ dan daerah aliran sungai (DAS) yang sudah ada. Pemerintah dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan kesadaran para pengusaha tentang  pentingnya pencegahan banjir dengan memberikan penyuluhan dan sosialisasi peraturan mengenai solusi penanganan banjir dengan baik. Pemerintah dapat mendukung dengan menggalakkan penghijauan di setiap lahan hijau terbuka milik pemerintah maupun bukan. Pemerintah juga dapat mendukung solusi penanganan banjir dengan menambah sarana dan prasarana pembuangan sampah serta memperbanyak tempat sampah di tempat umum,  armada pengolahan sampah di tempat pembuangan sampah akhir dan tentunya dengan armada pengangkutan sampah dari tempat rawan banjir menuju tempat pembuangan sampah akhir.

Pemerintah dapat juga mendukung dengan penanaman pohon di setiap lahan kosong milik pemerintah, misalnya tanah hasil sitaan, lahan bekas stasiun pengisian bahan bakar umum, dan taman kota, bukan menjadikan lahan-lahan tersebut sebagai bangunan ataupun jalan. Pemerintah juga harus dengan tegas menindak lanjuti orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti pembuangan sampah sembarangan, membangun rumah atau perumahan  tanpa drainase memadai, penebangan liar, dan sebagainya. Jika pemerintah mampu melakukan hal-hal tersebut, otomatis permasalahan banjir bukan hal yang susah untuk ditangani. Solusi penanganan banjir dapat terlaksana dengan baik dengan adanya kesadaran masyarakat tentang masalah banjir.  Dengan membuang sampah pada tempatnya, membuat tempat drainase di pekarangan rumah, menanam pohon di pekarangan rumah, secara rutin mengangkat lumpur dari aliran air di sekeliling rumah  dan  tidak selalu menyalahkan pemerintah merupakan beberapa aspek yang perlu di tanamkan pada setiap masyarakat.

Dengan adanya pembentukan pola pikir yang baik pada masyarakat, masyarakat akan mampu bekerja sama dengan baik dengan pemerintah dalam menangani masalah banjir yang ada di Indonesia. Dengan adanya arus informasi yang baik di dalam masyarakat melalui internet, diharapkan masyarakat dapat membuat biopori sederhana di halaman rumah masing-masing untuk membuat titik drainase di setiap rumah. Masyarakat juga dapat membantu mengurangi masalah banjir dengan melakukan 3R (reduce, reuse, recycle). Dengan memakai prinsip 3R, masyarakat dapat mengurangi sampah yang dibuang. Berkurangnya sampah yang dibuang, artinya mengurangi sampah yang menimbun daerah aliran sungai maupun daerah resapan. Masyarakat dapat membantu mengurangi banjir jika ikut mengurangi sampah plastik yaitu dengan memakai tas sendiri ketika berbelanja. Besarnya kesadaran masyarakat dalam menangani banjir dapat membantu dukungan pemerintah dalam mengurangi dan menghapus masalah banjir di Indonesia.

Categories: Saran | Tinggalkan komentar

Pengolahan Limbah yang Baik

Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia, limbah adalah sisa proses produksi, atau bahan yg tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian. Limbah adalah materi yang sudah tidak bias digunakan lagi dan harus dibuang. Jika limbah tidak dibuang, maka ada kemungkinan limbah tersebut mengontaminasi daerah di  sekitarnya dan menyebarkan penyakit pada makhluk hidup yang terpapar limbah tersebut dalam waktu yang lama. Meskipun ada limbah yang tidak berbahaya, kita tidak boleh menyimpan limbah tersebut terlalu lama, karena limbah tersebut hanya akan memenuhi daerah tempat limbah disimpan dan menciptakan suasana yang tidak enak bagi lingkungan di sekitarnya.

Kenyataannya, Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi (pengelolaan air limbah domestik) terburuk ketiga di Asia Tenggara setelah Laos dan Myanmar ( ANTARA News, 2006 ). Di Indonesia, kebanyakan limbah dibuang begitu saja ke dalam tanah, ke sungai, atau ke lautan, tanpa melalui pengelolaan terlebih dahulu. Hal ini biasanya terjadi karena faktor ekonomi atau karena faktor pendidikan. Khusus untuk pembuangan limbah ke sungai, limbah yang belum dikelola dapat mengancam kesehatan penduduk yang tinggal di sekitar lokasi tersebut. Jika banjir datang, sungai dapat meluap ke perumahan penduduk, membawa limbah yang seharusnya dapat mengalir ke laut. Akibatnya, penduduk di sekitar luapan sungai dapat menderita berbagai penyakit. Ada kalanya limbah yang dibuang ke sungai masih berupa limbah padat, sehingga mengalami kesulitan dalam pergerakan menuju laut. Akibatnya sebagian dari limbah padat tersebut mengendap di dasar sungai dan menyebabkan pendangkalan sungai. Daerah yang belum pernah terkena banjir pun mempunyai kemungkinan banjir karena pengendapan limbah padat ini.

Oleh karena itu, sistem pembuangan limbah yang baik perlu dilakukan agar akibat buruk banjir tidak semakin besar. Langkah awal yang dapat dilakukan dalam memperbaiki sistem pembuangan limbah adalah dengan pengelompokan sistem pembuangan limbah berdasarkan jenis air buangannya. Misalnya, air buangan yang berasal dari kloset, air buangan yang berasal dari bathtub atau wastafel, air buangan yang berasal dari air hujan, dan air buangan yang mengandung limbah pabrik tidak boleh mempunyai saluran pembuangan yang langsung menyatu. Pengelompokan air buangan diperlukan karena setiap air buangan harus diolah dengan cara yang berbeda sebelum dibuang ke tanah, ke sungai, atau langsung ke laut. Jika pengelompokan tidak dilakukan, dikhawatirkan air buangan akan mengalami pengolahan limbah dengan cara yang salah, sehingga jika dibuang ada kemungkinan menyebabkan pengendapan pada saluran pembuangan. Selain itu, jika semua jenis air buangan dibuang ke dalam satu saluran, maka sungai yang biasanya menjadi saluran pembuangan limbah tersebut akan mengalami peningkatan volume secara drastis, yang kemungkinan dapat menyebabkan banjir, bahkan di saat tidak ada hujan.

 

Selain itu, limbah padat yang tidak bias diolah menjadi limbah cair tidak boleh dibuang ke saluran pembuangan seperti sungai. Limbah hasil pengolahan yang berbentuk padat harus dikumpulkan dan dibuang dengan cara mengangkut limbah langsung ke tempat pembuangan akhir. Mungkin hal itu membutuhkan biaya tambahan bagi pihak perusahaan, namun hal itu harus dilakukan untuk mencegah kerugian yang lebih besar akibat banjir.

Sumber Tulisan penulis dengan data dari beberapa sumber :

  • agung_wyd.staff.gunadarma.ac.id
  • forum.nationalgeographic.co.id/topic.php?id=1934
  • pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/
  • www.aforaceh.org/?p=105
Categories: Solusi | Tinggalkan komentar

Sistem Drainase Yang Baik

Solusi banjir melalui sistem drainase yang baik

Pada tahun 2004, Aceh diterjang gelombang tsunami yang telah menghancurkan kota tersebut. Tsunami yang datang menimpa Aceh dari bagian sebelah barat, gelombang yang efeknya sampai di rasakan sampai ke Sri Langka menghancurakan Aceh. Bahkan sebuah kapal pembangkit listrik milik PLN yang ada di tengah laut hingga terdampar di tengah kota.

Bila kita lihat dan telusuri dari berbagai riset yang dilakukan pasca tsunami di Aceh, hanya bagian barat dan tengah kota yang mengalami kehancuran paling parah sedangkan pada daerah timur mengalami kehancuran yang tidak terlalu parah.

Mengapa kehancuran Aceh tidak merat atau terjadi pebedaan tingkat kehancuran? Seharusnya hanya bagian barat saja yang mengalami kehancuran terparah, tapi mengapa kehancuran parah hingga mencapai tengah kota?

BIla kita memelihara tata ruang dan bangunan di Aceh, seluruh posisi gedung dan jalan raya mengarah ke pusta kota. Jadi saat gelombang tsunami pertama menerjang bagian barat Aceh, gelombang ini tidak dapat sampai ke tengah kota dan berhenti jalan-jalan yang akan menuju  pusat kota. Pada gelombang kedua, gelombang air dengan kekuatan yang lebih besar dapat sampai ke pusat kota. Hal ini terjadi karena pada gelombang tsunami pertama aita yang berhenti di jalan-jalan kota telah membuka jalur baru untuk gelombang kedua. Seolah-olah gelombang kedua berjalan di atas gelombang pertama yang terlebih dahulu telah masuk ke dalam kota.

National Geography sudah melakukan simulasi dan pembandingan dari video amatir saat tsunami gelombang pertama dan tsunami gelomabng kedua, hasil yang mereka peroleh untuk pertanyaan mangapa kehancura kota bisa sampai hingga tengah kota hanyalah kesalahan pada tata kota. Selain kekuatan tsunami yang memang besar ( efeknya hingga sampai ke Sri Langka ) kesalahan pada tata kota juga menjadi salah satu faktor kehancuran Aceh.

Solusi tata kota yang baik menurut kami  sebaiknya menyusun jalan-jalan utama dan jalan kecil melewati kota atau membuangnya keluar dari kota. Selain tata kota, hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah sistem pembuangan air dan gorong-gorong kota.

Pada saat hujan / volume air dalam kota sedang tinggi, dengan sistem pembuangan air dan gorong-gorong yang baik maka banjir dalam kota dapat dihindari. Akan tetapi, semuanya hanya dapat di realisasikan apabila ada kerjasama antara pemerintah sebagai pembuatan kebijakan dan warga sebagai pelaksana kebijakan.

Categories: Solusi | Tinggalkan komentar

Penghijauan Lingkungan

Penghijauan Lingkungan adalah solusi utama untuk mengatasi banjir besar agar tidak terus terulang lagi dan terulang lagi.

Penghijauan Lingkungan sebagai area resapan air dan paru-paru kota.
Untuk mendukung habitat lingkungan perkotaan, menurut PBB, idealnya disediakan ruang terbuka hijau sekitar 30 persen dari luas kota yang bersangkutan. Minimnya area resapan air di kota besar mengakibatkan aliran air hujan di permukaan tanah akhirnya akan menggenang dan menimbulkan banjir.

Selain berfungsi sebagai area resapan air dan ruang interaksi sosial, ruang terbuka hijau ini semakin penting artinya dalam mendukung program ‘Go Green’ dalam rangka mengatasi Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim ( Climate Change) yang dialami Bumi kita, sekarang ini. Selain itu juga penghijauan berperan sebagai paru-paru kota dan menyerap polusi udara terutama gas emisi CO2 yang konsentrasinya semakin menumpuk di atmosfer Bumi membentuk lapisan yang menyebabkan suhu di Bumi semakin panas.

Perluasan area hijau sudah mulai digalakkan di kota-kota besar seperti di ibukota Jakarta. Kebijaksanaan Ancol mengubah lapangan golf seluas 33,6 ha menjadi wahana “Ecopark” demi mewujudkan ‘Green Ancol’ pastinya lebih bermanfaat secara lingkungan. Hari Rabu (24/02) pagi, para siswa sekolah dasar di sekitar Ancol yang berjumlah ratusan murid dikerahkan untuk target menanam 10.000 pohon. Kegiatan ramah lingkungan semacam ini patut didukung dan kita apresiasi, khususnya dalam rangka menambah areal penghijauan untuk mengatasi banjir di Jakarta.

Di bekas lapangan golf ini, segera dibangun wahana ecopark yang berbasis edutainment. Ecopark akan dilengkapi berbagai sarana yang bisa dimanfaatkan bagi pendidikan lingkungan hidup, seperti taman flora, fauna, dan fasilitas multifungsi untuk permainan petualangan di lahan terbuka (sumber berita dari Kompas cetak 25/02/2010 halaman 25).

Hijaukan ruang terbuka di sekitar Danau Buatan
Penghijauan memang harus segera dilakukan, demikian pula dengan penghijauan di sekitar danau buatan juga harus dijadikan areal terbuka hijau yang bisa meningkatkan daya serap air hujan. Jika dalam penerapannya ditata dengan baik menjadi taman ditambah jalur pejalan kaki (jogging track) untuk olahraga, tentunya sangat indah dan nyaman serta meningkatkan kualitas udara lingkungan sekitar.

Koordinasi dengan penataan penghijauan lingkungan hutan

Idealnya penghijauan yang harus dijaga kelestariannya pada areal hulu ini minimal 30 persen, namun kenyataannya sekarang banyak yang rusak dan berubah fungsi.

 

Penghijauan dengan pohon besar di hulu Sungai harus dilakukan setidaknya mencapai angka 30 persen, agar air bisa dicerna dengan baik juga mencegah longsor.Oleh karena itu, penghijauan agar daya resap air hujan semakin optimal serta tidak langsung masuk ke areal sungai.

Hal yang mendesak lainnya adalah dicari solusi agar air hujan terutama dengan kapasitas curah yang tinggi, dapat ditahan atau ditunda alirannya. Salah satunya dengan cara membuat ‘danau buatan’ sebagai penampung air dengan kapasitas memadai. Danau buatan semacam banjir kanal ini berfungsi sebagai filter.

Kegiatan penghijauan hutan sudah ada contohnya seperti di hulu sungai Ciliwung. Dengan menanam 4 ribu pohon yang dilaksanakan Nokia (Program Nokia Give & Grow) bekerja sama dengan TES-AMM Indonesia dan WWF Indonesia patut diacungi jempol. Hal ini merupakan aksi nyata dari peran kepedulian perusahaan swasta atas masalah lingkungan yang terjadi di Jakarta sebagai Ibu kota Negara.

Aksi hijau penanaman pohon mulai dilakukan di area hulu daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, desa Cikoneng, Cisarua, Bogor pada awal Februari ini dengan luas areal sekitar 10 ha.  Aksi hijau dengan cara menukar HP bekas dengan tanam pohon ini mempunyai manfaat langsung dalam mencegah terjadinya banjir di Jakarta.

Perluas Areal Penghijauan Mangrove.

areal hutan bakau (Mangrove) sangat berperan menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayat. Hutan bakau merupakan perisai alam utama untuk menghadapi badai dan kenaikan muka air laut (Rob). Oleh karena itu penanaman kembali Mangrove, sangat mendesak dilakukan, khususnya dalam rangka mengatasi masalah banjir di tempat-tempat yang sering terjadi banjir.

‘Green Building’ dan Sumur Resapan sebagai solusi ramah lingkungan.

lubang biopori yang diisi sampah organik di taman halaman rumah dapat menyerap air hujan dan menyuburkan tanah.

Penerapan ‘green building’, khususnya pada bangunan perkantoran baik pemerintah mau pun swasta, jika perlu juga diterapkan pada perumahan warga. Pada ‘bangunan hijau’ ramah lingkungan ini, sumber energi menggunakan energi terbarukan dari alam seperti panel matahari atau kincir angin. Hemat energi dan air diterapkan pada operasional sehari-hari. Pada halaman dan dak atap bangunan bisa diolah menjadi taman dengan berbagai tanaman untuk menciptakan lingkungan hijau.

Kebijakan setiap bangunan di kota besar memiliki sumur resapan masing-masing sangatlah positif dalam rangka mengatasi masalah banjir. Demikian pula partisipasi aktif masyarakat untuk membuat resapan air berupa biopori beserta penghijauannya di halaman rumah masing-masing sangat berdampak positif sebagai solusi mengatasi banjir, jika sebagian besar warga mau melakukannya.

 

Our Opinion:

Mulai dari sekarang, kita tingkatkan partisipasi demi melestarikan Bumi ini dengan mengurangi efek  pemanasan global dimulai dari rumah masing-masing, karena sesungguhnya sangat banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan seperti membuat sumur resapan, memilah sampah sesuai jenisnya(terurai dan sukar terurai), tidak membuang sampah/brangkal ke tempat air mengalir, dll. Penghijauan ( Go Green ) adalah solusi yang sangat tepat untuk menjaga Bumi kita yang asri tetap bisa diwariskan serta dinikmati oleh generasi mendatang yaitu anak dan cucu kita.

 

 

*) Sumber: The Live Earth-Global Warming Survival Handbook 2007

http://nokiagreenambassador.kompasiana.com/

Categories: Solusi | Tinggalkan komentar

Belajar Cara Pengontrolan Banjir dari Negara lain

Berikut kami membahas salah satu sistem penahan Banjir yang di lakukan di Belanda. Sistem ini bernama sistem Polder.

Sistem Polder Di Rotterdam, Belanda

Deskripsi Lokasi

Kota Rotterdam merupakan kota terbesar di Belanda setelah Amsterdam, dengan surface (luas): 33.700 ha, inhabitants (jumlah penduduk): 730.000, municipalities (wilayah administrasi): 15, companies (perusahaan): 18.000, deepest point below sea level (elevasi darat terendah dari muka laut): -7 m NAP. Wilayah ini ada di tepi Sungai Rhine yang merupakan sungai besar lintas negara dimana hulunya melintas negara Swiss dan Jerman.

Elevasi muka tanah di Rotterdam jauh ada di bawah muka air laut (Sungai Rhine). Muka air Sungai Rhine dikendalikan +2,2 SWL (Sea Water Level). Elevasi darat terendah mencapai -7 m SWL, sehingga selisih muka air laut dan darat 9,2 m. Air yang ada dalam polder area tidak dapat mengalir secara gravitasi, bahkan pada saat kondisi air laut surut. Untuk itu metode pembuangan air digunakan pompa saat ini. Pada masa lalu metode untuk membuang air dari darat ke sungai/laut menggunakan kincir angin.

Tanggul yang ada di Sungai Rhine direncanakan untuk ketinggian air maksimal +2,2 m. Padahal elevasi muka air laut dapat melebihi itu, untuk itu dibuat dua pintu gerak besar. Yang pertama ada di dekat muara sungai Pintu tersebut bergerak secara horizontal. Pintu berikutnya untuk menjaga keamanan dan mengendalikan elevasi air, dibuat pintu gerak sebagaimana dalam gambar 5. Pintu ini bergerak secara vertikal. Agar kapal juga dapat lewat saat pintu di tutup, maka pintu gerak ini dilengkapi dengan saluran pintu air.

Gambar 5 Pintu Gerak Air  Dekat Pusat Kota  Digunakan untuk Menahan Kenaikan Air Laut

Gambar 6 Sebelum Pompa, Upaya Mengendalikan Elevasi Air Dengan Kincir Angin

Untuk membuang air dari area polder ke sungai atau laut digunakan pompa dan kincir angin. Pada masa lalu digunakan kincir air (gambar 6). Saat ini untuk membuang air dari sistem polder ke sungai atau laut digunakan pompa. Statiun pompa umumnya mengendalikan hanya satu elevasi air, tetapi ada juga yang dapat sekaligus mengendalikan 2 (dua) elevasi air dari 2 sistem polder (gambar 7).

Gambar 7 Station Pompa yang Mengendalikan 2 Elevasi Catchment Area yang Berbeda

 

Sistem pengontrol Banjir Negara lain

  • Amerika

Beberapa contoh pengendalian banjir dapat ditemukan di provinsi Manitoba, Canada. ‘Red River’ mengalir dari Amerika Serikat, melewati kota Winnipeg dan ke danau Winnipeg. Saat temperaturnya meningkat, salju-salju mencair dan menambah tinggi sungai. Ini dapat menyebabkan banjir yang parah. Untuk melindungi kota, pemerintah Manitoba membangun banyak system diversi air, tanggul, dan jalur banjir. Sistem ini berhasil melindungi Winnipeg dari banjir besar yang menghancurkan beberapa kota disekitarnya,yaitu Grand Forks, North Dakota, dan Ste. Agathe, Manitoba.

  • China

Di China, banjir dialihkan ke daerah pedesaan yang sengaja dilakukan untuk melindungi kota-kota besar.

  • Eropa

London dilindungi dari banjir melalui pelindung mekanik sepanjang Sungai Thames, yang dapat naik saat tingkat air menaik lebih dari yang ditentukan.

Venice memiliki system yang hampir sama, walaupun tidak dapat menahan ombak yang terlalu tinggi. Namun system di Venice dan London tidak akan berguna bila tinggi air laut terus naik.

Pertahanan banjir terbesar dan paling efektif dapat ditemukan di Netherlands, dimana system ini disebut sebagai ‘Delta Works’ dengan dam ‘Oosterschelde’ sebagai pencapaian tertingginya.

 

 

 

 

 

 

 

Disunting dari sumber :

en.wikipedia.org/wiki/Flood_control

Categories: Studi Pustaka | Tinggalkan komentar

Dampak Banjir

Pada dasarnya, setiap bencana akan memiliki dampak tersendiri. Secara umum dampak dari sebuah bencana dapat dipandang dari sisi kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Dampak dari bencana akan dijabarkan sebagai berikut :

1. Dampak Banjir pada Bidang Kesehatan

Setelah banjir, besar kemungkinan bahwa wabah penyakit mengancam daerah yang terkena banjir. Hal ini karena aliran banjir membawa sampah dan kotoran, ketika banjir surut, sampah dan kotoran akan berserakan di daerah yang terkena banjir. Keadaan ini dapat menurunkan tingkat kesehatan dari suatu daerah jika tidak ditanggulangi dengan cepat. Penyakit yang biasanya tersebar melalui sampah dan kotoran adalah diare dan penyakit yang dibawa oleh nyamuk (malaria, demam berdarah, dll). Di sisi lain, banjir dapat mencemari sumber air dari daerah di sekitarnya. Ketika banjir melewati suatu daerah, kandungan zat kimia dari dalam tanah dapat terbawa oleh air dan tercampur dalam aliran banjir. Kemudian aliran banjir akan mengalir sampai ke sumber air dan menjadi polutan pada sumber air tersebut. Hal ini dapat menyebabkan keracunan air pada daerah sekitar bencana.

 

2. Dampak Banjir pada Bidang Ekonomi

Banjir dapat memberi berdampak pada kerugian ekonomi suatu daerah. Pada dasarnya, ketika banjir menggenangi suatu pemukiman, besar kemungkinan pemukiman tersebut menjadi tidak layak tinggal lagi. Dari sisi perseorangan, biasanya perabot atau peralatan rumah tangga yang terkena banjir tidak mampu dipakai lagi. Ketika aliran air dari banjir ekstrim, tidak menutup kemungkinan dapat merusak daerah pemukiman suatu daerah. Dari sisi pemerintah, untuk melakukan perbaikan di daerah yang terkena banjir dibutuhkan biaya tambahan. Ditambah lagi dengan biaya pemeliharaan fasilitas yang dapat mencegah banjir seperti drainase, bendungan, atau gerbang sungai setiap tahunnya.

3.Dampak Banjir pada Bidang Sosial

Banjir dapat berdampak juga pada bidang sosial. Jumlah penduduk dari suatu daerah biasanya berkurang setelah banjir terjadi di daerah tersebut. Hal ini memaksa perubahan dan adaptasi terhadap suatu komunitas sosial di daerah tersebut. Selain itu, berpindahnya penduduk dari daerah banjir ke daerah baru juga memaksa penduduk untuk beradaptasi dengan keadaan yang baru. Komunitas sosial pada suatu pemukiman sampai sekarang masih sulit mengatasi dampak sosial yang terjadi setelah banjir.

 

Sumber : http://balisafety.baliprov.go.id/Edukasi.aspx?ida=138&id=5

Sumber 2 : http://bebasbanjir2025.wordpress.com/aspek-aspek-tentang-banjir/aspek-sosial-banjir/

Categories: Pendahuluan | Tinggalkan komentar

Jenis-jenis banjir

Jenis-jenis banjir menurut penyebabnya di Indonesia

Di Indonesia, banjir adalah sebuah bencana alam yang mudah terjadi. Hal ini karena letak Indonesia pada daerah tropis yang memungkinkan curah hujan yang tinggi setiap tahunnya. Banjir di Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

  1. Banjir Bandang
    Banjir bandang adalah banjir besar yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung hanya sesaat yang yang umumnya dihasilkan dari curah hujan berintensitas tinggi dengan durasi (jangka waktu) pendek yang menyebabkan debit sungai naik secara cepat. Banjir jenis ini biasa terjadi di daerah dengan sungai yang alirannya terhambat oleh sampah.
  2. Banjir Hujan Ekstrim
    Banjir ini biasanya terjadi hanya dalam waktu 6 jam sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya banjir ini ditandai dengan banyaknya awan yang menggumpal di angkasa serta kilat atau petir yang keras dan disertai dengan badai tropis atau cuaca dingin. Umumnya banjir ini akibat meluapnya air hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan cukup banyak air.
  3. Banjir Luapan Sungai / Banjir Kiriman
    Jenis banjir ini biasanya berlangsung dalam waktu lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda gangguan cuaca pada waktu banjir melanda dataran – sebab peristiwa alam yang memicunya telah terjadi berminggu-minggu sebelumnya. Jenis banjir ini terjadi setelah proses yang cukup lama. Datangnya banjir dapat mendadak. Banjir luapan sungai ini kebanyakan bersifat musiman atau tahunan dan bisa berlangsung selama berhari- hari atau berminggu-minggu tanpa berhenti. Banjir ini biasanya terjadi pada daerah-daerah lembah.
  4. Banjir Pantai (ROB)
    Banjir yang disebabkan angin puyuh laut atau taifun dan gelombang pasang air laut. Banjir ini terjadi karena air dari laut meresap ke daratan di dekat pantai dan mengalir ke daerah pemukiman atau karena pasang surut air laut. Banjir ini biasanya terjadi di daerah pemukiman yang dekat dengan pantai. Contoh daerah yang biasanya terkena ROB adalah Semarang.
  5. Banjir Hulu
    Banjir yang terjadi di wilayah sempit, kecepatan air tinggi, dan berlangsung cepat dan jumlah air sedikit. Banjir ini biasanya terjadi di pemukiman dekat hulu sungai. Terjadinya banjir ini biasanya karena tingginya debit air yang mengalir, sehingga alirannya sangat deras dan bisa berdampak destruktif.

Sumber : http://balisafety.baliprov.go.id/Edukasi.aspx?ida=138&id=5

Categories: Pendahuluan | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.